ANNI SOETARDJO
Kubayangkan halimun itu shubuh dingin
Gegas mencari shaf pertama qiyammu ingin
Kabut-kabut melembut menyambut pagi, embunmu
Berasal dari perigi yang sama-kah ?
Embunku juga
Berkilau-kilau ditimpa cahaya lantas tiada
Kembali ke awal periode jam pasir menggugur butir
Rindui bayu berhembus dari punggung pegunungan tapi
Hawa landainya melengkung, membusung lalu membentuk gelembung hangat
Tiba padaku serupa bora
Kunikmati deburan ombak pantai
Bersama angin-anginnya yang mana saja…
(tetap saja kau tak ada)
..........................................
7 Januari 2012
Minggu, 08 Januari 2012
BENDUNGAN
ANNI SOETARDJO
Seperti inilah
Air-air dari mata air yang sama
Hujanmu tempo hari mendadak beku setengah perjalanan ke bumiku
Dan entah kenapa sungaiku berbelok arah menyusur kelok lain
Bukankah telah kita bersumpah pelimbahan sepi takkan tersusut?
Apapun juga aral disambut kendati tujuh samudera berkumpul menjadi satu
Merasuki ceruk-ceruk jiwa
Namun baru sekolam keruh bayang purnama kau benamkan aku pula
Ke dalam pori terkatup, sungguh
Siapa sanggup menampung bandang-bandangku selain Dia ?
(kau berani-kah ?!)
7 Januari 2012
Seperti inilah
Air-air dari mata air yang sama
Hujanmu tempo hari mendadak beku setengah perjalanan ke bumiku
Dan entah kenapa sungaiku berbelok arah menyusur kelok lain
Bukankah telah kita bersumpah pelimbahan sepi takkan tersusut?
Apapun juga aral disambut kendati tujuh samudera berkumpul menjadi satu
Merasuki ceruk-ceruk jiwa
Namun baru sekolam keruh bayang purnama kau benamkan aku pula
Ke dalam pori terkatup, sungguh
Siapa sanggup menampung bandang-bandangku selain Dia ?
(kau berani-kah ?!)
7 Januari 2012
Kamis, 05 Januari 2012
KEMBALI
BENING DAMHUJI
suara-suara asing itu kian menyeretnya ke dunia sunyi
ya, sebuah tempat tanpa bumi air udara api dan suhu
di sanalah dulu dia lama menyendiri menganyam sepi
melepuh tak luluh
merepih tak pula mati
memintal sajaksajak elegi
suara-suara asing itu kian menyeretnya ke dunia sunyi
ya, sebuah tempat yang disebutnya sajadah panjang sufi
di sanalah dulu doa-doanya berkabung berurai air mata
menghamba penuh kehinadinaan
merintih menangisi dosa-dosa yang dikira putih
bersimpuh malu di ujung 'Jemari Kaki Sang Kekasih'
suara-suara asing itu kian menghelanya ke dunia sunyi
dan, dia harus kembali
(Tuhan, aku selalu ingin menemui-MU di tempat sunyi)
Saat hujan di atas kota senja ini, 05 Januari 2012
suara-suara asing itu kian menyeretnya ke dunia sunyi
ya, sebuah tempat tanpa bumi air udara api dan suhu
di sanalah dulu dia lama menyendiri menganyam sepi
melepuh tak luluh
merepih tak pula mati
memintal sajaksajak elegi
suara-suara asing itu kian menyeretnya ke dunia sunyi
ya, sebuah tempat yang disebutnya sajadah panjang sufi
di sanalah dulu doa-doanya berkabung berurai air mata
menghamba penuh kehinadinaan
merintih menangisi dosa-dosa yang dikira putih
bersimpuh malu di ujung 'Jemari Kaki Sang Kekasih'
suara-suara asing itu kian menghelanya ke dunia sunyi
dan, dia harus kembali
(Tuhan, aku selalu ingin menemui-MU di tempat sunyi)
Saat hujan di atas kota senja ini, 05 Januari 2012
Rabu, 04 Januari 2012
elmaut
Cukup perkasakah kau menantang maut?
Sedang kau hanya secoreng arang di tubuh bumi
Kau mungkin pelakon handal di sinema hidup
Seribu wajah seribu senyum
Lalu kau menenggak anggur sukacita
dari piala sesembahan dewa
Kau mungkin penyair ulung
Menabur ludah pada banyak wajah
Lalu kau menjilat ceceran darah
dari hati yang patah
Kau mungkin dipuja
Kau mungkin pemuja
Kau mungkin sesiapa saja yang sanggup menggenggam hasrat dan imaji sesiapa pula
Namun cukup perkasakah kau menantang maut?
Kurasa kau hanya kan mencoreng arang di wajah
Aku bicara tentang kita, atau tentang kami saja pun tak apa
Airmata membelanga tatkala teringat ini cerita
Maut memang selalu jadi sebuah cerita...
dengan genangan airmata berbelanga-belanga.
Jikalah saja.
RGS
Sedang kau hanya secoreng arang di tubuh bumi
Kau mungkin pelakon handal di sinema hidup
Seribu wajah seribu senyum
Lalu kau menenggak anggur sukacita
dari piala sesembahan dewa
Kau mungkin penyair ulung
Menabur ludah pada banyak wajah
Lalu kau menjilat ceceran darah
dari hati yang patah
Kau mungkin dipuja
Kau mungkin pemuja
Kau mungkin sesiapa saja yang sanggup menggenggam hasrat dan imaji sesiapa pula
Namun cukup perkasakah kau menantang maut?
Kurasa kau hanya kan mencoreng arang di wajah
Aku bicara tentang kita, atau tentang kami saja pun tak apa
Airmata membelanga tatkala teringat ini cerita
Maut memang selalu jadi sebuah cerita...
dengan genangan airmata berbelanga-belanga.
Jikalah saja.
RGS
PELANGI
pelangi selengkung pedang
sehabis hujan
mengusap tangis puan
pelangi selengkung pedang
membawa harapan
menebas tangis puan
RGS
sehabis hujan
mengusap tangis puan
pelangi selengkung pedang
membawa harapan
menebas tangis puan
RGS
IBU
ibu, gurat di bawah mata tuamu itu bercerita begitu banyak kisah,
jejak tegas begitu banyak sejarah.
ibu, aku ingin tenggelam dalam kedamaian wajahmu.
menyusuri bertahun-tahun kisah aku dan kamu, berharap hadirku bukan hanya beban bagimu.
"ibu, kapan terakhir kali engkau tersenyum karenaku, ya?"
RGS
jejak tegas begitu banyak sejarah.
ibu, aku ingin tenggelam dalam kedamaian wajahmu.
menyusuri bertahun-tahun kisah aku dan kamu, berharap hadirku bukan hanya beban bagimu.
"ibu, kapan terakhir kali engkau tersenyum karenaku, ya?"
RGS
Langganan:
Postingan (Atom)