seruang putih semula suci
dipercik tinta hitam noda hari ke hari
diusap kasih karat menggelap
dibasuh zikir tak jua kilap
siapa yang berdiam di bilik sunyi?
apa yang berlumut di bilik sunyi?
rindu tak berbalas pun berjawab
terkatung-katung bersama tanya
cinta lama terkubur tak terurus
lampu bilik redup
cahaya minggat
padam
siapa yang berdiam di bilik sunyi?
apa yang berlumut di bilik sunyi?
adalah dia semestinya layak
adalah doa selayaknya mesti
penghuni bilik sunyi
hati
Bengkulu, 07 Februari 2012
Tampilkan postingan dengan label Sesuatu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sesuatu. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Februari 2012
Senin, 30 Januari 2012
Menggugat Debu
kausimpan rapat rahasia sepotong kue serabi
tentang campuran apa yang menyembulkan pori-pori
namun terlupa gigi ompong di tengah
sepotong sisa nasi kisruhi adonan keramat
siang tak mengabarkan apa-apa selain gerah
tentang panas yang semestinya belum musim
namun hujan sah-sah saja enggan turun
masa katak beranak pinak dalam tempurung
hilang sudah berganti cumbu ular di rumpun bambu
mata jernihmu tak kujumpa di warung gado-gado sebelah rumah
tentang aromamu tertinggal di angin semilir
bukan bau yang biasa kuhidu
namun siapa larang jika kaubosan jadi babu?
kubuat catatan kecil tentangmu
bahwa tak seharusnya debu hinggap di lipatan baju
semestinya gerimis menggagalkan muslihat-muslihat
agar senja nanti langit berwarna merah jambu
Bengkulu, 7 Januari 2012
tentang campuran apa yang menyembulkan pori-pori
namun terlupa gigi ompong di tengah
sepotong sisa nasi kisruhi adonan keramat
siang tak mengabarkan apa-apa selain gerah
tentang panas yang semestinya belum musim
namun hujan sah-sah saja enggan turun
masa katak beranak pinak dalam tempurung
hilang sudah berganti cumbu ular di rumpun bambu
mata jernihmu tak kujumpa di warung gado-gado sebelah rumah
tentang aromamu tertinggal di angin semilir
bukan bau yang biasa kuhidu
namun siapa larang jika kaubosan jadi babu?
kubuat catatan kecil tentangmu
bahwa tak seharusnya debu hinggap di lipatan baju
semestinya gerimis menggagalkan muslihat-muslihat
agar senja nanti langit berwarna merah jambu
Bengkulu, 7 Januari 2012
Pertempuran
dia mengintai dari balik selimut
menatap gerakku tak berkedip
sambil mengasah pisau dengan batu dendam,
__bukannya aku tak tahu
aku mengintai dari balik tirai
menunggu lengahnya tak berjeda
sambil mengisi senapan dengan peluru kesumat,
__bukannya dia tak tahu
perseteruan ini menunggu puncak
saat rencana busuknya bertemu akal busukku
dipastikan meledak di gelanggang berdarah
dengan cabikan di hati dan jiwa
sedangkan air mata penyaksi hanya bumbu
hingga dua petarung gugur dalam tangis sesal
__bukannya kami tak tahu
Bengkulu, 9 Januari 2012
menatap gerakku tak berkedip
sambil mengasah pisau dengan batu dendam,
__bukannya aku tak tahu
aku mengintai dari balik tirai
menunggu lengahnya tak berjeda
sambil mengisi senapan dengan peluru kesumat,
__bukannya dia tak tahu
perseteruan ini menunggu puncak
saat rencana busuknya bertemu akal busukku
dipastikan meledak di gelanggang berdarah
dengan cabikan di hati dan jiwa
sedangkan air mata penyaksi hanya bumbu
hingga dua petarung gugur dalam tangis sesal
__bukannya kami tak tahu
Bengkulu, 9 Januari 2012
Sajadah
Pada kuning hamparmu, sujudku berkhidmat
Bulir-bulir adalah harapan penuh senyum
Matahari dan sungai merangkai pelangi
Pada lupa akan bergantinya musim, kepalku meradang
Retak-retak tanah adalah matinya tengadah syukur
Matahari dan sungai bergidik mengkerut
Sajadahku berduri
Kuinjak sekeruh hati, sebagai alas maki-makian keji
Pada air sungai yang tak lagi mengaliri
Bengkulu, 10 Januari 2012
Bulir-bulir adalah harapan penuh senyum
Matahari dan sungai merangkai pelangi
Pada lupa akan bergantinya musim, kepalku meradang
Retak-retak tanah adalah matinya tengadah syukur
Matahari dan sungai bergidik mengkerut
Sajadahku berduri
Kuinjak sekeruh hati, sebagai alas maki-makian keji
Pada air sungai yang tak lagi mengaliri
Bengkulu, 10 Januari 2012
Tamat Musim Tarian Panen
rindu terdampar di sepetak sawah retak
menempel pada wangi keringat belalang
hinggap di punggung ikan kecil sekarat
tak berdaya 'tuk susuri pematang rekah
rindu bermuara hujan air mata
kampung tak berani lagi memanggil
selendangmu tergantung cabik
tamat musim tarian panen
RGS
menempel pada wangi keringat belalang
hinggap di punggung ikan kecil sekarat
tak berdaya 'tuk susuri pematang rekah
rindu bermuara hujan air mata
kampung tak berani lagi memanggil
selendangmu tergantung cabik
tamat musim tarian panen
RGS
Si Kusut Masai Itu Aku
telah berwindu rasanya tak lagi kureguk embun muda nan dulu adalah reguk pagi buta. kopi garam sempurna pengganti, menurutku. lalu dari pagi ke siang ke malam kugantang cengarcengir dalam khayal nan sama, tentang berpacu menuju asal. padahal debu terlalu tebal melapisi wajah berjerawat kecilkecil. seusap tetes tangis langit serasa tak berarti. kemarau terlalu lama mengurungku.
di persegi kamar melukis semua semu, dengan polesan rayu di sanasini. aku akan berkandang tepat di wangi Tahta-Nya, kataku. maka kupacu lagi khayal dari pagi ke siang ke malam. lenalah pula dunia tertindih bayang langit. megapmegap butuh nafas buatan.
engkau datang.
dengan kuda berpelana emas menjinjing neraca nan setimbang. mengulurkan tambang sutera rapuh berwarna pelangi, tempat biasa burungburung senja merapatkan tengger. namun malam terlalu gegas memanggil kelam.
masih di kamar nan sama, dian pelita pudur. khayal meraba bara. maka sebaiknya pulanglah ke rumah bapakmu, dek. biarkan khayal ini mencapai tamat sempurna. bayang langit masih terlalu perkasa, kusut masai aku jadinya. engkau, pulanglah! pulanglah! pulanglah! jangan sampai kusut masai pula di teraliku.
Bengkulu, 23 Januari 2012
di persegi kamar melukis semua semu, dengan polesan rayu di sanasini. aku akan berkandang tepat di wangi Tahta-Nya, kataku. maka kupacu lagi khayal dari pagi ke siang ke malam. lenalah pula dunia tertindih bayang langit. megapmegap butuh nafas buatan.
engkau datang.
dengan kuda berpelana emas menjinjing neraca nan setimbang. mengulurkan tambang sutera rapuh berwarna pelangi, tempat biasa burungburung senja merapatkan tengger. namun malam terlalu gegas memanggil kelam.
masih di kamar nan sama, dian pelita pudur. khayal meraba bara. maka sebaiknya pulanglah ke rumah bapakmu, dek. biarkan khayal ini mencapai tamat sempurna. bayang langit masih terlalu perkasa, kusut masai aku jadinya. engkau, pulanglah! pulanglah! pulanglah! jangan sampai kusut masai pula di teraliku.
Bengkulu, 23 Januari 2012
Dari Liang
Alahai, sudah mampus rupanya aku
gelap menjadi dinding, alas dan atap
kelam selimuti pembaringan
cacing kepindingnya
Siapa yang mengantarku kemarin sore?
kamu dimana? dengan siapa? sedang berbuat apa?
tinggal pantul gemetar balasi risau
senyap lesap harap jawab
Alahai, sudah mampus rupanya aku
lerai gelisah nanti paripurna
kambut dosa himpit raga
titik syahadat bernoda pula
Siapa yang ‘kan kipasi gerah?
suluhi kelam dengan seberkas cahaya,
doamukah?
Bengkulu, 19 Januari 2012
gelap menjadi dinding, alas dan atap
kelam selimuti pembaringan
cacing kepindingnya
Siapa yang mengantarku kemarin sore?
kamu dimana? dengan siapa? sedang berbuat apa?
tinggal pantul gemetar balasi risau
senyap lesap harap jawab
Alahai, sudah mampus rupanya aku
lerai gelisah nanti paripurna
kambut dosa himpit raga
titik syahadat bernoda pula
Siapa yang ‘kan kipasi gerah?
suluhi kelam dengan seberkas cahaya,
doamukah?
Bengkulu, 19 Januari 2012
Rabu, 04 Januari 2012
PELANGI
pelangi selengkung pedang
sehabis hujan
mengusap tangis puan
pelangi selengkung pedang
membawa harapan
menebas tangis puan
RGS
sehabis hujan
mengusap tangis puan
pelangi selengkung pedang
membawa harapan
menebas tangis puan
RGS
IBU
ibu, gurat di bawah mata tuamu itu bercerita begitu banyak kisah,
jejak tegas begitu banyak sejarah.
ibu, aku ingin tenggelam dalam kedamaian wajahmu.
menyusuri bertahun-tahun kisah aku dan kamu, berharap hadirku bukan hanya beban bagimu.
"ibu, kapan terakhir kali engkau tersenyum karenaku, ya?"
RGS
jejak tegas begitu banyak sejarah.
ibu, aku ingin tenggelam dalam kedamaian wajahmu.
menyusuri bertahun-tahun kisah aku dan kamu, berharap hadirku bukan hanya beban bagimu.
"ibu, kapan terakhir kali engkau tersenyum karenaku, ya?"
RGS
KUCING-KUCINGAN
mari kita main kucing-kucingan
aku sembunyi di balik juntai jubah
kau sembunyilah pula di balik hijab lapis dua
mari kita mulai menghitung mundur dari lima
aku menahan nafas dalam gairah mendera
kau memejam mata pula dalam gamang batas norma
permainan ini harus terus kita jaga rahasianya
bisa celaka jika ada yang turut serta
dan membocorkan persembunyian kita
mari kita main kucing-kucingan
jaga rahasia, bunuh gairah
atau...kita saling terkam saja?
RGS
aku sembunyi di balik juntai jubah
kau sembunyilah pula di balik hijab lapis dua
mari kita mulai menghitung mundur dari lima
aku menahan nafas dalam gairah mendera
kau memejam mata pula dalam gamang batas norma
permainan ini harus terus kita jaga rahasianya
bisa celaka jika ada yang turut serta
dan membocorkan persembunyian kita
mari kita main kucing-kucingan
jaga rahasia, bunuh gairah
atau...kita saling terkam saja?
RGS
Tak Perlu Dimengerti
melengganglah waktu dengan lenggok gadis tujuh belas tahun
menyusuri wajah bumi nan semakin berkerut
menyambit bulan agar tak pernah purnama
kemudian hinggap di bawah kelopak mata
dua ratus delapan mantera menyibak misteri
merancang akhir kisah bella dan edward cullen
menghipnotis stephenie meyer agar tak meluka anak serigala
lalu waktu bertumpuk pada sepiring sesal
menyantapnya dengan kesadaran penuh tentang dosa
namun aku lahap tak peduli mertua!
bacalah jejaknya di tiap kerikil pecah
gurat yang dibuat tanpa basa-basi
menintamerahkan sebuah cinta
waktu mengakhiri lenggangnya
di kesakitanku berpisah denganmu
RGS
menyusuri wajah bumi nan semakin berkerut
menyambit bulan agar tak pernah purnama
kemudian hinggap di bawah kelopak mata
dua ratus delapan mantera menyibak misteri
merancang akhir kisah bella dan edward cullen
menghipnotis stephenie meyer agar tak meluka anak serigala
lalu waktu bertumpuk pada sepiring sesal
menyantapnya dengan kesadaran penuh tentang dosa
namun aku lahap tak peduli mertua!
bacalah jejaknya di tiap kerikil pecah
gurat yang dibuat tanpa basa-basi
menintamerahkan sebuah cinta
waktu mengakhiri lenggangnya
di kesakitanku berpisah denganmu
RGS
Selasa, 20 Desember 2011
Cerita Desember
setengah hari
setengah hati
kuikuti langkahmu
yang kemudian terhenti
__di halaman sebuah gereja
sedang apa, adinda?
dosa dan luka-luka abadi sudah tak ada beda
pun loncengnya hanya memanggil sunyi
jangan pinta kisah isa dariku
kupunya kisah adam hawa dan khuldi
__mari kita bertengkar saja tentang pohon itu
RGS
setengah hati
kuikuti langkahmu
yang kemudian terhenti
__di halaman sebuah gereja
sedang apa, adinda?
dosa dan luka-luka abadi sudah tak ada beda
pun loncengnya hanya memanggil sunyi
jangan pinta kisah isa dariku
kupunya kisah adam hawa dan khuldi
__mari kita bertengkar saja tentang pohon itu
RGS
Minggu, 11 Desember 2011
Terperangkap
Hujan menyampaikan pesan dari langit
lewat tiap butirnya
sampai padaku jadi gigil
Aku menyebut nama-Mu
kusebut pula namanya
menjadi-jadi dalam gigil yang beda
Hujan menyamarkan parau teriakku
lewat tiap butirnya
sampai padaku jadi gigil
Aku menyebut nama-Mu
kusebut pula namanya
menjadi-jadi dalam gigil yang beda
Hujan menyamarkan parau teriakku
MENJERANG MALAM
senja sebentar lagi usai
menyeret merahnya menghilang di tikungan kelam
memanggil burung hantu datang untuk disuruh diam
apa yang terperangkap abadi di bilik dadamu?
..senjakah itu?
tak datang jua malam menyapamu?
oh, kasihan..sungguh!
tentu tak pernah kau tahu,
tadi malam purnama ditelan gerhana
menyeret merahnya menghilang di tikungan kelam
memanggil burung hantu datang untuk disuruh diam
apa yang terperangkap abadi di bilik dadamu?
..senjakah itu?
tak datang jua malam menyapamu?
oh, kasihan..sungguh!
tentu tak pernah kau tahu,
tadi malam purnama ditelan gerhana
Sabtu, 12 November 2011
Ketika Itu
mari sama-sama kita tunggu tiupan sangkakala itu
sejengkal matahari toh sudah tak menakutkan lagi
pun gelegak bumi hanya matang air penyeduh mie
aku mungkin juga sedang tak bersamamu
engkau mungkin juga sedang tak bersamanya
mari sama-sama kita seret cerita masing-masing
ketika itu...
RGS
sejengkal matahari toh sudah tak menakutkan lagi
pun gelegak bumi hanya matang air penyeduh mie
aku mungkin juga sedang tak bersamamu
engkau mungkin juga sedang tak bersamanya
mari sama-sama kita seret cerita masing-masing
ketika itu...
RGS
Kamis, 10 November 2011
Aku-Penjahat-Pahlawan
Waduh!
Tak terasa sudah 10 November lagi...
Sialan!
Pahlawan sialan!
Mengapa kau papar mukamu pada pelor kompeni?
Mengapa kau julur lehermu pada samurai Jepun?
Dulu, otakmu kemana?
Sialan!
Tak terasa sudah 10 November lagi...
Sialan!
Pahlawan sialan!
Mengapa kau papar mukamu pada pelor kompeni?
Mengapa kau julur lehermu pada samurai Jepun?
Dulu, otakmu kemana?
Sialan!
Rabu, 09 November 2011
Siti Nurbaya
entah mengapa, Siti Nurbaya menyapaku pagi tadi
maka, kubuka kembali catatan yang mulai kusam
kutemui gagahnya batu nisan
kudapati perkasanya kekayaan
maka, kubuka kembali catatan yang mulai kusam
kutemui gagahnya batu nisan
kudapati perkasanya kekayaan
Selasa, 18 Oktober 2011
aku dan baginda
buatkan aku rompi anti peluru!
sepagi besok aku akan ke istana
tak ada undangan, aku ingin sarapan pagi dengan baginda
sudah lama kupendam hasrat ini
ingin mencicipi emas batangan bertabur coklat
tapi, selama ini aku terlalu takut...
tidak besok pagi!
buatkan aku rompi anti peluru!
siapa tahu, baginda khilaf tak kenal alas sepatu lagi
RGS
sepagi besok aku akan ke istana
tak ada undangan, aku ingin sarapan pagi dengan baginda
sudah lama kupendam hasrat ini
ingin mencicipi emas batangan bertabur coklat
tapi, selama ini aku terlalu takut...
tidak besok pagi!
buatkan aku rompi anti peluru!
siapa tahu, baginda khilaf tak kenal alas sepatu lagi
RGS
pulaumu, riwayat itu...
siapa yang mengawal pulaumu?
kulihat ribuan ular menjajah tiap jengkalnya
kelabang gendut-gendut makan sari tanahmu
sedangkan monyet penghuni tertua,
bergayut kurus megap-megap di kelapa condong
sayang sekali kau abaikan pulaumu
keindahan tak terperi kujumpai di sana
Tuhan begitu royal pada pulaumu
gaji aku dengan secanting beras seminggu
biar kukawal ia
akan kuusir ular dan kelabang
biar aku dan monyet saja yang jadi gendut
ya!, secanting beras seminggu...kurasa lebih dari cukup
RGS
kulihat ribuan ular menjajah tiap jengkalnya
kelabang gendut-gendut makan sari tanahmu
sedangkan monyet penghuni tertua,
bergayut kurus megap-megap di kelapa condong
sayang sekali kau abaikan pulaumu
keindahan tak terperi kujumpai di sana
Tuhan begitu royal pada pulaumu
gaji aku dengan secanting beras seminggu
biar kukawal ia
akan kuusir ular dan kelabang
biar aku dan monyet saja yang jadi gendut
ya!, secanting beras seminggu...kurasa lebih dari cukup
RGS
Selamat Menempuh Hidup Baru
Saat kau lihat kupu-kupu menari di bola matanya
Saat kau sematkan cincin hati di jiwanya
Saat kau ada di puncak bahagia,
ingatlah agungnya cinta Al Ayyubi akan Al Aqsa
Keringkan sisa luka, jangan diam saja
Katakan yang tak kau suka, hentikan yang tak ia suka,
Luka dan suka berbeda setipis ada dan tiada
Jangan cemburui besar cintanya pada selainmu
Kau telah tahu, selainmu itu hanya Dia
Kumpulkan tebaran kasih Sang Rahman di bahteramu,
pilih ia jadi nahkoda
Esok dan nanti
angin masih akan membelai layar
buih ombak, badai dan gelombang jadikan sahabat
Semata karena Cinta Rabbi Izzati
dermaga abadi masih menanti...
** Selamat Menempuh Hidup Baru :)
RGS
Saat kau sematkan cincin hati di jiwanya
Saat kau ada di puncak bahagia,
ingatlah agungnya cinta Al Ayyubi akan Al Aqsa
Keringkan sisa luka, jangan diam saja
Katakan yang tak kau suka, hentikan yang tak ia suka,
Luka dan suka berbeda setipis ada dan tiada
Jangan cemburui besar cintanya pada selainmu
Kau telah tahu, selainmu itu hanya Dia
Kumpulkan tebaran kasih Sang Rahman di bahteramu,
pilih ia jadi nahkoda
Esok dan nanti
angin masih akan membelai layar
buih ombak, badai dan gelombang jadikan sahabat
Semata karena Cinta Rabbi Izzati
dermaga abadi masih menanti...
** Selamat Menempuh Hidup Baru :)
RGS
Langganan:
Postingan (Atom)